Gejala Katarak Traumatik, Penyebab, & Pengobatan yang Tepat
Katarak traumatik adalah katarak yang terjadi karena cedera pada mata, seperti benturan atau luka. Gejala utamanya biasanya adalah penglihatan yang mulai buram atau kabur setelah mengalami trauma pada mata.
Katarak traumatik adalah kondisi katarak yang muncul akibat cedera atau benturan pada mata. Meskipun termasuk masalah serius yang bisa mengganggu penglihatan, katarak ini bisa diatasi dengan tindakan medis seperti operasi.
Pencegahan katarak traumatik juga memungkinkan dengan melindungi mata dari risiko cedera, terutama saat melakukan aktivitas yang berpotensi membahayakan mata.
Apa Itu Katarak Traumatik?
Katarak traumatik adalah kondisi lensa mata yang menjadi keruh setelah mengalami benturan keras atau luka yang menembus mata sehingga merusak struktur lensa. Lensa dapat membengkak setelah cedera, namun bagaimana katarak berkembang tergantung pada seberapa parah kerusakan pada lapisan pelindung lensa.
Ada juga jenis katarak akibat trauma tumpul (concussion cataract), di mana lapisan pelindung lensa dapat tetap utuh, tapi lama-kelamaan lensa dapat menjadi keruh.
Katarak traumatik terjadi karena kerusakan langsung pada lapisan pelindung lensa atau tekanan dari energi benturan yang merambat ke sisi mata lainnya sehingga menyebabkan perubahan dan kerusakan pada lensa.
Baca juga: Jenis Katarak dan Gejalanya
Penyebab Katarak Traumatik
Katarak traumatik terjadi akibat kerusakan pada lensa mata yang disebabkan oleh cedera fisik. Cedera ini bisa berupa luka tusuk atau benturan keras yang merusak struktur lensa dan kapsul pelindungnya.
Berikut adalah beberapa penyebab utama katarak traumatik:
1. Cedera Mata Penetrasi (Trauma Tembus)
Cedera ini terjadi ketika benda tajam menembus dinding luar mata (bola mata). Benda asing tersebut dapat merusak kornea, iris, atau kapsul lensa. Kapsul lensa adalah selaput transparan yang menyelubungi lensa. Posisi lensa dipertahankan oleh serabut zonula yang melekat pada kapsul lensa.
Jika kapsul ini robek, cairan di dalam bola mata dapat masuk ke dalam lensa dan menyebabkan pembengkakan serta kekeruhan. Material lensa yang keluar juga dapat memicu peradangan atau peningkatan tekanan mata. Kerusakan yang lebih parah biasanya mempercepat pembentukan katarak.
Sedangkan robekan kecil bisa menyebabkan katarak berkembang secara perlahan selama minggu atau bulan.
2. Cedera Mata Karena Benturan (Trauma Tumpul)
Cedera ini terjadi saat mata terkena pukulan kuat meskipun bola mata tidak terluka terbuka. Benturan ini dapat menyebabkan beberapa kerusakan internal seperti:
- Kerusakan kapsul lensa, yang mungkin hanya berupa robekan mikroskopis sehingga cairan dapat masuk ke lensa dan menyebabkan kekeruhan.
- Kerusakan serat lensa yang membuat serat-serat tersebut pecah, bergeser, atau menggumpal, sehingga mengganggu kemampuan lensa dalam memfokuskan cahaya dengan baik.
- Dalam kasus benturan parah, lensa bisa bergeser dari posisinya, menyebabkan gangguan penglihatan serius dan memerlukan operasi.
Perkembangan katarak akibat benturan bisa terjadi segera atau bertahap tergantung pada tingkat kerusakannya.
Adapun beberapa situasi yang sering menyebabkan katarak traumatik:
- Olahraga dengan risiko benturan tinggi seperti tinju, rugby, dan seni bela diri.
- Kecelakaan kerja di lingkungan industri yang melibatkan benda tajam, percikan bahan kimia, atau benda terbang.
- Kecelakaan sehari-hari di rumah, misalnya terkena alat, kembang api, atau jatuh.
- Kekerasan fisik yang menyebabkan trauma pada mata.
- Kecelakaan kendaraan, di mana airbag dapat menyebabkan benturan tumpul, sedangkan serpihan dapat menimbulkan luka tembus pada mata.
Semua situasi ini berpotensi merusak lensa mata dan memicu terbentuknya katarak traumatik.
Baca juga: Kelebihan Operasi Katarak Fakoemulsifikasi Vs Konvensional
Gejala Katarak Traumatik
Katarak traumatik adalah kondisi yang bisa muncul setelah mata mengalami cedera, baik karena tertusuk benda tajam maupun terkena benturan keras. Ciri-ciri katarak traumatik tidak hanya menyebabkan kekeruhan pada lensa mata, tapi juga bisa menimbulkan berbagai gejala lain yang menandakan adanya kerusakan pada struktur dalam mata.
Gejala katarak sendiri terutama meliputi penglihatan kabur atau menurun, silau, dan kadang penglihatan ganda pada satu mata.
Selain gejala katarak, cedera mata yang menyertainya dapat menimbulkan tanda dan keluhan berikut:
- Bentuk bola mata terlihat tidak normal, biasanya karena perubahan struktur akibat benturan atau tusukan.
- Mata terasa sakit, tergantung seberapa parah luka yang terjadi.
- Terjadi perdarahan di dalam mata, yang bisa membuat pandangan tampak gelap atau buram.
- Mata tampak bengkak, terutama jika mengalami benturan langsung.
- Penglihatan menurun drastis, bahkan bisa sampai tidak bisa melihat sama sekali.
Penurunan penglihatan, nyeri menetap, perdarahan, atau perubahan bentuk mata maupun pupil setelah cedera memerlukan pemeriksaan segera. Jangan menganggap kehilangan penglihatan berat setelah trauma pasti disebabkan oleh katarak.
Jika lensa membengkak akibat cedera, tekanan di dalam mata bisa naik. Namun, bila kerusakan sangat parah, justru tekanan di dalam bola mata bisa turun dari normal.
Pada pemeriksaan dokter, katarak akibat benturan tumpul dapat terlihat seperti bunga mawar putih, dengan pola seperti kelopak atau serat bulu. Sedangkan pada cedera tusukan, kataraknya bisa berukuran kecil namun dapat cepat menyebar.
Pola ini bisa muncul segera setelah cedera terjadi, atau baru muncul beberapa bulan hingga beberapa tahun kemudian. Selain itu, katarak traumatik dapat disertai cedera pada bagian belakang mata, termasuk retina, yang bisa memperburuk penglihatan.
Cara Mengatasi Katarak Traumatik
Penanganan katarak traumatik perlu disesuaikan dengan kondisi cedera dan dapat lebih kompleks dibandingkan katarak biasa. Jika katarak masih ringan, tidak berkembang, dan tidak mengganggu pusat penglihatan, dokter biasanya akan memantau secara berkala tanpa tindakan khusus untuk kataraknya. Cedera mata lain yang menyertai tetap perlu ditangani sesuai kondisinya.
Pada kasus yang jarang, kekeruhan lensa tertentu dapat membaik dengan sendirinya, termasuk pada sebagian anak. Namun, kondisi ini tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda pemeriksaan atau penanganan. Pada anak, katarak yang menghambat perkembangan penglihatan dapat menyebabkan ambliopia atau mata malas.
Bila kekeruhannya kecil dan berada di pusat jalur penglihatan, dokter dapat mempertimbangkan penggunaan obat tetes untuk melebarkan pupil agar cahaya melewati bagian lensa yang masih jernih. Tetes tersebut tidak menghilangkan katarak, tidak sesuai untuk semua pasien, dan dapat memperburuk silau sehingga hanya digunakan atas arahan dokter.
Apabila katarak sudah cukup mengganggu, tindakan operasi akan dilakukan dengan mengangkat lensa mata yang keruh dan menggantinya dengan lensa buatan jika kondisi mata memungkinkan. Dalam kondisi cedera mata yang parah, dokter dapat menunda pemasangan lensa hingga kondisi mata cukup stabil dan peradangan terkendali agar hasilnya lebih akurat.
Jika terdapat cedera mata lain, dokter akan menanganinya secara bersamaan atau mendahulukan penyembuhan cedera sebelum operasi katarak. Pada kondisi tertentu, misalnya peningkatan tekanan mata atau peradangan akibat material lensa, operasi dapat diperlukan lebih segera.
Hasil penglihatan setelah operasi katarak bergantung pada kondisi struktur mata lainnya. Mengangkat lensa keruh tidak selalu mengembalikan penglihatan sepenuhnya jika retina atau saraf penglihatan turut rusak.
Baca juga: Cara Mencegah Munculnya Katarak pada Mata
Operasi Katarak di Ciputra SMG Eye Clinic
Ciputra SMG Eye Clinic (CSEC) menyediakan layanan operasi katarak oleh dokter spesialis mata berpengalaman dengan dukungan teknologi mutakhir. Prosedur aman dan nyaman, dengan tujuan mengembalikan kualitas penglihatan pasien seoptimal mungkin.
Di CSEC, pasien bersama dokter dapat menentukan jenis lensa tanam (intraocular lens/IOL) yang disesuaikan dengan kebutuhan penglihatan masing-masing dan kondisi mata setelah cedera. Pilihan yang tersedia meliputi lensa monofokal yang memiliki satu jarak fokus, misalnya jauh, menengah, atau dekat, lensa torik untuk mengoreksi astigmatisme kornea yang teratur, serta lensa multifokal yang memungkinkan penglihatan pada berbagai jarak.
Lensa multifokal termasuk kelompok lensa koreksi presbiopia. Sebagian model lensa juga dapat menggabungkan koreksi presbiopia dan astigmatisme. Namun, lensa torik atau multifokal tidak selalu sesuai untuk mata yang mengalami trauma, terutama jika terdapat kerusakan kornea, retina, atau penyangga lensa.
Segera kunjungi klinik Ciputra SMG Eye Clinic di Jakarta Selatan atau Surabaya. Anda juga bisa konsultasi dan buat janji dokter online dengan dokter kami melalui website atau chat WhatsApp. Yuk, jaga kesehatan mata dengan Ciputra SMG Eye Clinic!


