Jakarta - Surabaya: Senin - Sabtu | 09:00 - 18:00 WIB Jakarta - Surabaya:
Senin - Sabtu | 09:00 - 18:00 WIB

Pemeriksaan Glaukoma Mata


Pernah mendengar penyakit mata satu ini? Biasa disebut glaukoma, mungkin terdengar biasa saja di telinga Anda. Namun, tahukah Anda? Glaukoma mata menjadi penyebab kebutaan nomor dua setelah katarak, lho! Ternyata mengerikan bukan? Oleh karena itu penting untuk  melakukan tes atau pemeriksaan glaukoma mata sejak dini. Yuk, baca informasi selengkapnya terkait pemeriksaan glaukoma berikut!

Pemeriksaan Glaukoma Mata

Pasien berusia 70-an memiliki risiko glaukoma 3,5 kali lipat dibandingkan pasien berusia 40-an.

 

Apa Itu Glaukoma?
Glaukoma dapat terjadi akibat meningkatnya tekanan cairan dalam bola mata. Akibatnya bisa merusak serat lembut saraf optik yang bertugas mengirimkan gambar ke otak. Saraf optik ini terdiri dari satu juta saraf yang menghubungkan retina dengan otak. Retina mata sendiri merupakan lapisan peka cahaya yang melapisi bagian dalam mata. Jadi, bisa dipastikan untuk dapat melihat dengan baik maka dibutuhkan komponen saraf optik yang sehat. Jika kerusakan saraf mata semakin parah, glaukoma dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen. Salah satu faktor risiko utama glaukoma ialah riwayat glaukoma pada keluarga/genetik. Glaukoma sendiri perlu diwaspadai. Pasalnya glaukoma tidak memiliki gejala awal atau rasa sakit. Oleh karena itu, penting melakukan skrining mata untuk mengetahuinya pada tahap awal. Kunjungi dokter spesialis mata untuk mengobati glaukoma sebelum kehilangan penglihatan jangka panjang. Kerusakan glaukoma pada saraf optik tidak dapat disembuhkan, dan sebagian besar kasus glaukoma biasanya semakin progresif bila tanpa pengobatan yang tepat.

 

Gejala Glaukoma
Glaukoma terdiri dari dua jenis, yakni glaukoma akut dan glaukoma kronis. Glaukoma akut merupakan glaukoma yang terjadi secara tiba-tiba. Sementara itu, glaukoma kronis merupakan glaukoma yang terjadi secara perlahan-lahan. Saat merasakan sakit mata yang berat, kemerahan pada mata, hingga pandangan menjadi buram, itulah salah satu tanda penyakit glaukoma akut yang harus diwaspadai. Pada glaukoma kronis, awanya tidak menunjukkan gejala, hanya berupa mata pegal, tidak nyaman, kadang disertai sakit kepala, tapi akan terlambat bila penyakit sudah berkembang. Jika mengalami salah satu tanda berikut ini, segera konsultasikan pada dokter untuk mendapatkan perawatan medis.

  • Melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu
  • Penglihatan buram
  • Kemerahan di mata
  • Nyeri pada mata dan sekitarnya
  • Mual atau muntah

 

Diagnosis Glaukoma
Perlu dilakukan pemeriksaan mata secara lengkap untuk mendiagnosis glaukoma. Pemeriksaan glaukoma  mata dapat dilakukan oleh dokter spesialis mata. Pemeriksaan ini tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak membutuhkan waktu lama. Pertama, dokter akan menanyakan keluhan atau gejala glaukoma yang mungkin dirasakan oleh pasien, mengenai riwayat penyakit maupun keluarga. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan dan tekanan bola mata. Tekanan bola mata yang normal berkisar 10-21 mmHg. Bila tekanan bola mata normal, dokter akan memberikan obat tetes mata untuk melebarkan pupil sehingga dokter dapat melihat bagian dalam mata. Dokter akan memeriksa saraf optik untuk mencari tanda-tanda glaukoma. Bila diperlukan, dokter akan mengambil foto sehingga mereka dapat melihat perubahan pada kunjungan berikutnya. Selain itu, dokter mungkin juga melakukan tes lapang pandang untuk melihat apakah pasien kehilangan penglihatan tepi dengan alat yang disebut kampimetri. Jika dokter mencurigai ada tanda-tanda glaukoma maka tes pencitraan khusus diperlukan untuk saraf optik pasien.

 

Penyebab Glaukoma
Apa saja yang menyebabkan atau memicu glaukoma? Sebenarnya ada beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan perkembangan penyakit ini. Faktor risiko tersebut meliputi:

1. Usia
Usia diatas 40 tahun menjadi faktor risiko terjadinya glaukoma. Bertambahnya usia pun meningkatkan risiko persentase seseorang menderita glaukoma. Pasien berusia 70-an memiliki risiko glaukoma 3,5 kali lipat dibandingkan pasien berusia 40-an.

2. Ras
Orang kulit hitam memiliki risiko 3-4 kali lebih besar daripada orang kulit putih untuk terkena glaukoma. Sedangkan hispanik memiliki risiko 1-2 kali lebih besar dari pada orang kulit putih.

3. Tekanan Intraokular (TIO)
Memiliki TIO di atas normal, yaitu lebih dari 21 mmHg.

4. Riwayat Keluarga
Jika ada keluarga yang pernah memiliki riwayat glaukoma, maka risiko seseorang semakin tinggi untuk menderita glaukoma.

5. Ketebalan Kornea
Ketebalan kornea mempengaruhi untuk risiko glaukoma. Pasien yang memiliki kornea lebih tipis memiliki risiko lebih besar karena peningkatan kerentanan biomekanik lamina cribrosa dan sklera peripapiler.

6. Penyakit Tertentu
Diduga kondisi lain pada mata, seperti rabun jauh/ miopia, rabun dekat/ hipermetropia, serta kondisi sistemik seperti diabetes dan hipertensi dianggap memiliki peran terhadap risiko glaukoma. Selain itu, pasien dengan penyakit penyerta tertentu yang mengkonsumsi obat-obatan rutin seperti steroid juga memiliki risiko glaukoma lebih tinggi.

 

Pengobatan Glaukoma
Seperti kita ketahui, glaukoma tidak dapat disembuhkan. Glaukoma dapat dikontrol, baik dengan obat tetes, tablet, laser, maupun operasi. Obat tetes mata berfungsi untuk menurunkan tekanan mata. Cara ini bertujuan untuk mengurangi produksi cairan yang dihasilkan dalam bola mata dan memperlebar jalan keluar cairan dalam mata. Efek dari obat glaukoma bisa membantu menjaga penglihatan, tapi juga dapat menimbulkan beberapa efek samping, diantaranya meliputi:

  • Rasa gatal atau kering pada mata
  • Mata merah atau kulit merah di sekitar mata
  • Perubahan denyut nadi dan detak jantung
  • Perubahan pernapasan
  • Mulut kering
  • Penglihatan kabur
  • Pertumbuhan bulu mata
  • Perubahan warna mata, kulit di sekitar mata atau penampilan kelopak mata.

Sebenarnya semua obat memiliki efek samping. Bahkan beberapa obat dapat menyebabkan masalah bila diminum dengan obat lain. Jadi, penting untuk memberi tahu dokter daftar setiap obat yang Anda minum secara teratur. Pastikan juga bila Anda merasa mungkin memiliki efek samping dari obat glaukoma segera berbicara dengan dokter spesialis mata Anda. Jangan sampai Anda mencoba untuk berhenti meminum obat glaukoma tanpa saran dari dokter. Jika kehabisan obat segera tanyakan segera kepada dokter spesialis mata Anda. Selain itu, operasi dan laser bisa menjadi pilihan untuk mengobati glaukoma yang lebih lanjut. Operasi dilakukan untuk membuat akses tambahan untuk saluran keluar cairan dalam mata. Prosedur ini biasanya dilakukan oleh dokter spesialis mata.

 

Skrining Glaukoma
Terkadang kita tidak mengetahui apakah perkembangan suatu penyakit sudah terjadi, berjalan lambat, atau justru cepat. Oleh karena itu, penting untuk melakukan deteksi dini dengan skrining glaukoma / pemeriksaan glaukoma mata sebagai langkah awal untuk mencegah kebutaan akibat glaukoma. Lalu, kapan seseorang perlu melakukan skrining glaukoma? Anda dapat melakukan skrining glaukoma secara berkala sebagai berikut:

  • Memiliki usia sebelum 40 tahun lakukan skrining setiap 2-4 tahun
  • Memiliki usia sesudah 40 tahun lakukan skrining setiap 2 tahun
  • Memiliki riwayat keluarga penderita glaukoma lakukan skrining setiap 1 tahun

Tujuan tes skrining/ pemeriksaan glaukoma mata untuk mendeteksi secara dini apakah pasien menderita glaukoma stadium awal. Dengan adanya pemeriksaan dan penegakan diagnosis yang tepat, maka pasien dapat diobati untuk mengurangi risiko kehilangan penglihatan. Pasien dapat dilakukan tes skrining terbatas pada evaluasi saraf optik dan lapisan serabut saraf retina pusat. Biasanya pencitraan lapisan saraf optik dan saraf retina digunakan untuk menemukan perubahan anatomi. Salah satu pemeriksaan penunjang yang lebih detail untuk menilai bentuk dan ketebalan, serta perubahan saraf optik mata ialah Optical coherence tomography (OCT). Sementara kampimetri digunakan untuk menilai fungsi saraf mata, sejauh mana hilangnya lapisan serat retina pada glaukoma.

Glaukoma bisa kapan saja mencuri penglihatan. Tak heran bila gangguan mata ini menjadi perhatian yang serius untuk setiap orang. Jika sudah menderita glaukoma, maka tidak bisa disembuhkan. Oleh karena itu, penting untuk memeriksakan mata ke dokter spesialis mata secara rutin. Jalani pemeriksaan mata secara teratur sesuai saran dokter spesialis mata Anda. Semakin cepat dokter mendeteksi tanda-tanda glaukoma, maka semakin cepat Anda dapat memulai pengobatan. Jika Anda mengalami gangguan penglihatan. Ciputra SMG Eye Clinic hadir untuk memenuhi kebutuhan di bidang kesehatan mata khususnya dengan kelainan refraksi atau tajam penglihatan. Bila Anda merasakan gejala atau tanda dari glaukoma seperti yang dijabarkan di atas, Anda bisa melakukan pemeriksaan lapang pandang di Ciputra SMG Eye Clinic. Pemeriksaan dapat dilakukan menggunakan alat kampimetri. Hasil dari pemeriksan lapang pandang dapat diketahui untuk membantu diagnosis. Anda dapat ditangani langsung dengan dokter spesialis mata senior lebih dari 38 tahun berpengalaman di bidangnya. Yuk, jaga kesehatan mata Anda mulai sekarang!

 

Reviewed: dr. Azrina Noor, SpM

Source: